ऋषिसमागमः — युधिष्ठिरस्य शोकवर्णनम्
Sage Assembly and Yudhiṣṭhira’s Articulation of Grief
यः स नागायुतबलो लोके<प्रतिरथो रणे । सिंहखेलगतिर्धीमान् घृणी दाता यतव्रत:
yāḥ sa nāgāyutabalo loke 'pratiratho raṇe | siṁhakhelagatirdhīmān ghṛṇī dātā yatavrataḥ |
Yudhiṣṭhira berkata: “Ia memiliki kekuatan sepuluh ribu gajah; di dunia ini tak ada mahāratha lain yang sanggup menandinginya di medan laga. Di gelanggang perang ia bergerak laksana singa yang bermain—bijaksana, berbelas kasih, dermawan, serta teguh dalam pengendalian diri dan laku-vrata. Ia menjadi sandaran putra-putra Dhṛtarāṣṭra; namun karena bangga diri, berdaya-juang setajam bilah, tak tahan penghinaan, dan senantiasa menyala oleh amarah, ia berulang kali menyerang kami—dengan senjata dan juga dengan kata-kata yang menusuk. Mahir dalam aneka siasat tempur, cepat melepaskan astra, menguasai ilmu panahan, dan sanggup menampilkan keberanian yang menggetarkan—dialah Karṇa; putra Kuntī yang lahir secara rahasia, kakak sulung kami; demikianlah yang kami dengar.”
युधिछिर उवाच
The verse frames Karṇa as a morally complex figure: endowed with wisdom, compassion, generosity, and disciplined vows, yet driven by pride and anger into relentless hostility. It highlights how virtues can coexist with destructive loyalties, and how hidden kinship intensifies the ethical tragedy of war.
Yudhiṣṭhira describes Karṇa’s extraordinary prowess and character—his unmatched strength and skill, his generosity and restraint, and his fierce antagonism toward the Pāṇḍavas—then states the crucial revelation: Karṇa was secretly born as Kuntī’s son and is their elder brother.