Adhyāya 33: Rauhiṇeya (Balarāma) is welcomed and takes his seat to witness the gadā-engagement
कृच्छुप्राप्तेन च तथा हारयेद् राज्यमागतम् | पणित्वा चैकपाणेन रोचयेदेवमाहवम्,“भला कौन ऐसा होगा, जो सब शत्रुओंको जीत लेनेके बाद जब एक ही बाकी रह जाय और वह भी संकटमें पड़ा हो तो उसके साथ अपने हाथमें आये हुए राज्यको दाँवपर लगाकर हार जाय और इस प्रकार एकके साथ युद्ध करनेकी शर्त रखकर लड़ना पसंद करे?
sañjaya uvāca | kṛcchuprāptena ca tathā hārayed rājyam āgatam | paṇitvā caikapāṇena rocayed evam āhavam |
Sañjaya berkata: “Siapakah yang begitu bodoh hingga, setelah menaklukkan semua musuh, ketika tinggal satu lawan saja dan ia pun sedang terhimpit malapetaka, justru mempertaruhkan kerajaan yang sudah berada dalam genggaman lalu kehilangannya? Siapa yang akan memilih mengikat diri pada taruhan semacam itu—berperang dengan syarat demikian melawan satu orang saja?”
संजय उवाच
The verse underscores prudence and responsibility in kingship: after securing victory, it is ethically and strategically unsound to gamble away an obtained kingdom merely to satisfy a risky, pride-driven condition of single combat.
Sañjaya comments rhetorically on the irrationality of staking a newly won realm in a wager-like agreement to fight a lone remaining foe—especially when that foe is already in difficulty—highlighting the folly of turning near-certain victory into needless risk.