Adhyāya 6: Śibira-dvāra-sthita Bhūta-varṇana and Aśvatthāmā’s Śaraṇāgati to Mahādeva
इस प्रकार श्रीमह्ाभारत सौप्तिकपर्वमें अश्वत्थामाका प्रयाणविषयक पाँचवाँ अध्याय पूरा हुआ
bāhubhiḥ svāyataiḥ pīnair nānā-praharaṇodyataiḥ | baddhājad-mahāsarpa-jvālā-mālākulānanam ||
Sañjaya berkata: Di sana ia melihat sesosok makhluk raksasa nan ajaib, bercahaya laksana matahari dan bulan, berdiri sebagai penjaga di ambang pintu, menghadang jalan. Sekadar memandangnya membuat bulu roma berdiri. Ia mengenakan kulit harimau yang basah oleh darah, berselimut kulit kijang hitam, dan menjadikan ular-ular sebagai yajñopavīta (tali suci). Lengan-lengannya yang besar dan tebal tampak terangkat, siap menghantam dengan beragam senjata; sebagai pengganti gelang lengan, ular-ular raksasa terikat melilit. Mulutnya menganga, seakan dipenuhi untaian nyala api; wajahnya kian mengerikan oleh taring-taring yang menonjol. Dihiasi ribuan mata yang ganjil, sosok menggentarkan itu berdiri menutup jalan.
संजय उवाच
The verse underscores that violent intent—especially in the darkness of vengeance—meets a moral and cosmic resistance: terrifying guardianship imagery externalizes the inner consequence of adharma, warning that power and weapons do not exempt one from ethical accountability.
In Sañjaya’s report, Aśvatthāmā (in the surrounding passage) encounters a colossal, radiant, fearsome figure blocking the entrance—armed, serpent-adorned, and flame-faced—signaling a supernatural obstruction and an atmosphere of dread before the ensuing night-time events.