मालाकार इवारामे स्नेहं कुर्वन् पुनः पुन: । अन्यथा उन पक्षियोंकी हिंसा करनेवाले राजाकी भाँति आपको भी मोहवश पकश्चात्ताप करना पड़ेगा। इस द्रोहले आपका उसी तरह सर्वनाश हो जायगा, जैसे बंसीका काँटा निगल लेनेसे मछलीका नाश हो जाता है। भरतकुलभूषण! जैसे माली उद्यानके वृक्षोंको बार-बार सींचता रहता है और समय-समयपर उनसे खिले पुष्पोंको चुनता भी रहता है, उसी प्रकार आप पाण्डवरूपी वृक्षोंको स्नेहजलसे सींचते हुए उनसे उत्पन्न होनेवाले धनरूपी पुष्पोंको लेते रहिये
mālākāra ivārāme snehaṁ kurvan punaḥ punaḥ |
Wahai permata wangsa Bharata! Seperti seorang tukang kebun di taman kesenangan: berulang kali ia menyirami pepohonan dengan kasih dan perhatian, dan pada musimnya ia pun memetik bunga-bunga yang mekar. Demikian pula hendaknya engkau terus memelihara para Pāṇḍava—laksana pohon-pohon itu—dengan “air” niat baik dan perlindungan, lalu pada waktu yang patut menerima “bunga” kemakmuran yang lahir dari mereka. Jangan berpaling kepada pengkhianatan; kelak ia menjerumuskan ke dalam kebingungan dan penyesalan. Dengan dṛoha itu engkau akan binasa, seperti ikan yang musnah karena menelan mata kail yang berduri.
विदुर उवाच
A ruler should sustain allies and dependents through steady goodwill, like a gardener watering plants; prosperity should be received as a natural fruit of protection and right conduct, not seized through betrayal that leads to regret and destruction.
In the Sabha Parva, Vidura warns the Kuru king against hostile designs toward the Pāṇḍavas and urges a policy of affectionate support: nurture them and enjoy the lawful gains that arise, rather than provoking calamity through adharma.