अश्वमेधावसानम् — Dakṣiṇā-vibhāga and Avabhṛtha
Completion of the Aśvamedha
जड़मै: स्थावरैर्वापि यष्टव्यमिति भारत । इन्द्रके उस यज्ञमें जुटे हुए तपस्वी लोगोंमें इस प्रश्नको लेकर महान् विवाद खड़ा हो गया। भारत! एक पक्ष कहता था कि जंगम पदार्थ (पशु आदि)-के द्वारा यज्ञ करना चाहिये और दूसरा पक्ष कहता था कि स्थावर वस्तुओं (अन्न-फल आदि)-के द्वारा यजन करना उचित है
jaḍaiḥ sthāvarair vāpi yaṣṭavyam iti bhārata | indre ca tasmin yajñe juṭeṣu tapasviṣu janaiḥ asmin praśne mahān vivādaḥ samajāyata | bhārata! ekaḥ pakṣaḥ jagamadravyaiḥ (paśv-ādibhiḥ) yajñaṃ kartavyam iti, aparaḥ pakṣaḥ sthāvaravastubhiḥ (anna-phala-ādibhiḥ) yajanaṃ yuktam iti ||
Waiśampāyana berkata: “Wahai Bhārata, (sebagian berpendapat) bahwa kurban suci patut dilakukan juga dengan persembahan yang tak bernyawa dan tak bergerak. Dalam yajña Indra itu, di antara para pertapa yang berkumpul, timbullah perdebatan besar mengenai hal ini. Satu pihak menyatakan bahwa upacara harus dilakukan dengan makhluk bergerak—seperti hewan—sedangkan pihak lain menegaskan bahwa pemujaan selayaknya dilakukan dengan persembahan tak bergerak—seperti biji-bijian dan buah-buahan.”
वैशम्पायन उवाच
The verse frames an ethical-ritual dilemma: whether sacrificial duty is fulfilled through animal (jāṅgama) offerings or through non-violent, immobile (sthāvara) offerings like grains and fruits. It highlights that dharma can involve competing interpretations, especially when ritual obligation and non-harm are both valued.
During Indra’s sacrifice, the gathered ascetics begin a major debate. Two factions form—one advocating animal sacrifice as proper to yajña, the other advocating offerings of grains/fruits—setting up a discussion on the correct means of performing the rite.