Abhimanyu’s Śrāddha; Vyāsa’s Assurance of the Unborn Heir (अभिमन्योः श्राद्धं तथा गर्भरक्षणोपदेशः)
स्पर्धते सम रणे नित्यं दुहितु: पुत्रको मम | “मेरी बेटीका वह लाड़ला अभिमन्यु रणभूमिमें सदा द्रोणाचार्य
spardhate sama-raṇe nityaṁ duhituḥ putrako mama | evaṁvidhaṁ bahu tadā vilapantaṁ suduḥkhitam |
Waiśampāyana berkata: “Cucu laki-lakiku—putra dari putriku—senantiasa berhasrat bertanding dalam perang yang adil. Ia berani mengukur senjata bahkan melawan Droṇa, Bhīṣma, dan Karṇa, yang terunggul di antara para perkasa. Mungkinkah Droṇa, Karṇa, Kṛpa, dan yang lain bersekutu lalu membunuh anak itu dengan tipu daya, sehingga ia kini terbaring di bumi, gugur oleh pengkhianatan? Keśava, katakanlah semuanya kepadaku.” Demikianlah pada saat itu ia meratap panjang, diliputi duka yang amat berat.
वैशम्पायन उवाच
The passage contrasts righteous, fair combat (sama-raṇa) with the moral stain of deceitful killing. It highlights how adharma in war—especially collective, treacherous violence against a lone youth—becomes a source of enduring grief and ethical questioning.
Vaiśaṃpāyana narrates a lament in which a grieving speaker recalls Abhimanyu’s fearless readiness to face even the greatest warriors and suspects that senior fighters (Droṇa, Karṇa, Kṛpa and others) may have killed him through stratagem. He appeals to Keśava (Kṛṣṇa) to disclose the truth, and continues lamenting in intense sorrow.