Mokṣa-dharma Yoga-Upadeśa: Equanimity, Sense-Restraint, and Vision of the Ātman (आत्मदर्शन-योगोपदेशः)
जीवो निष्क्रान्तमात्मानं शरीरात् सम्प्रपश्यति । स तमुत्सृज्य देहे स्वं धारयन् ब्रह्म केवलम्
jīvo niṣkrāntam ātmānaṃ śarīrāt samprapaśyati | sa tam utsṛjya dehe svaṃ dhārayan brahma kevalam |
Sang brāhmaṇa berkata: “Diri individu memandang dirinya seakan telah keluar—terpisah dari tubuh. Walau masih berdiam di dalam raga, ia melepaskan keterikatan dan pengenalan-diri pada tubuh itu; berpegang teguh hanya pada Brahman yang murni. Sang pengetahu hakikat merenungkan Parabrahman, Paramātman—sebagai jati diri sejatinya—dan dengan bantuan budi pembeda (viveka) mencapai penyaksian langsung atas Ātman. Dalam keadaan itu ia seolah tersenyum, berpikir: ‘Aduhai! Seperti air yang tampak dalam fatamorgana, dunia ini—yang hanya tampak di dalam diriku—telah lama menjerumuskanku ke dalam delusi yang sia-sia.’ Barangsiapa demikian memandang Yang Mahatinggi, berlindung pada-Nya, dan pada akhirnya terbebaskan ke dalam-Ku—yakni teguh dalam pengalaman langsung akan Yang Mahatinggi di dalam Ātman sendiri.”
ब्राह्मण उवाच
The verse teaches discernment between Self and body: the jīva, through true knowledge (tattva-jñāna), abandons identification with the body and fixes awareness on Brahman alone. This clear seeing dissolves worldly delusion (like mirage-water) and culminates in liberation through refuge in the Supreme.
A brāhmaṇa speaker describes an inner yogic-gnostic realization: the seeker perceives the Self as distinct from the body, lets go of bodily identification while still living, contemplates pure Brahman, and arrives at liberating insight that the world’s binding power was a mistaken appearance.