Dehānta (Cyavana) and Upapatti: Kāśyapa’s Questions and the Siddha’s Account of Death, Pain, and Karmic Re-embodiment
इहैवाशुभकर्माण: कर्मभिर्निरयं गता: । अवाग्गतिरियं कष्टा यत्र पच्यन्ति मानवा: । तस्मात् सुदुर्लभो मोक्षो रक्ष्यक्षात्मा ततो भूशम्
ihaivāśubhakarmāṇaḥ karmabhir nirayaṃ gatāḥ | avāggatir iyaṃ kaṣṭā yatra pacyanti mānavāḥ | tasmāt sudurlabho mokṣo rakṣyātmā tato bhūśam ||
Di dunia ini juga, mereka yang melakukan perbuatan tercela, terdorong oleh karmanya sendiri, jatuh ke neraka. Itulah jalan menurun bagi jīva—keras dan menyakitkan—tempat manusia ‘dimasak’ dalam siksaan. Karena itu, terbebas darinya dan meraih mokṣa amatlah sukar; maka hendaknya seseorang, dengan kewaspadaan besar, melindungi diri dari nasib itu dengan menahan diri dari dosa.
सिद्ध उवाच
Evil actions lead to a painful downward destiny (hell) according to one’s own karma; since escape (moksha) from such a condition is extremely hard, one should vigilantly guard oneself by avoiding sinful conduct.
A Siddha delivers a didactic warning: he describes the karmic consequence of aśubha-karman—falling into niraya where beings suffer intense torment—and urges disciplined self-protection through ethical restraint.