Dāyavibhāga (Inheritance Apportionment) and Household Precedence — Dialogue of Yudhiṣṭhira and Bhīṣma
प्रजा न हीयते तस्या रतिश्ष भरतर्षभ । अतोडन््यथा वर्तमाना भवेद् वाच्या प्रजापते:
prajā na hīyate tasyā ratiś ca bharatarṣabha | ato 'nyathā vartamānā bhaved vācyā prajāpateḥ ||
Bhishma berkata: “Wahai yang terbaik di antara keturunan Bharata, dalam keadaan demikian, hubungan sang gadis dengan pria itu tidak dipandang tercela, dan keturunan yang lahir darinya pun tidak dianggap turun martabat. Namun perempuan yang bertindak berlawanan dengan tata cara yang semestinya menjadi tercela di mata Prajāpati, sebab ia menyimpang dari aturan dharma yang ditetapkan.”
भीष्म उवाच
When conduct follows the sanctioned rule, neither the woman’s union nor the resulting progeny is considered inferior; deviation from the prescribed norm is morally censured, framed as blameworthy before Prajāpati.
In Bhīṣma’s instruction to Yudhiṣṭhira on dharma, he clarifies a rule about sexual/relational conduct and the status of offspring: proper, rule-bound relations do not taint progeny, whereas acting ‘otherwise’ invites condemnation.