कल्मषापहर-कीर्तनम् / Kīrtana for the Removal of Impurity
शोभने! जिस मनुष्यका आचरण क्रूरतासे भरा हुआ है
śrīmaheśvara uvāca | śobhane! yo manuṣyaḥ krūratā-bharitācāraḥ sarva-bhūtānāṃ bhaya-hetuḥ, yaḥ kara-pāda-raśmi-daṇḍa-aśma-prabhṛtibhir āhatya stambheṣu baddhvā ca ghātaka-śastra-praghātaiḥ prāṇi-jantūn pīḍayati; sa chala-kapaṭa-kuśalaḥ hiṃsārthaṃ teṣu bhūteṣu udvegaṃ janayati, udvega-karaś ca nityaṃ teṣāṃ jantūnāṃ prati ākrāmati—tādṛśa-svabhāva-ācāro manuṣyo narake nipatati | sa vai manuṣyatāṃ gacched yadi kālasya paryayāt | bahu-duḥkha-bādha-parikliṣṭe jāyate so 'dhame kule ||
Śrī Maheshwara bersabda: “Wahai yang elok rupanya! Orang yang perilakunya dipenuhi kekejaman, yang menjadi sumber ketakutan bagi semua makhluk; yang memukuli makhluk hidup dengan tangan dan kaki, dengan tali, tongkat, dan batu; yang mengikat pada tiang dan menghantam dengan senjata mematikan, menyiksa hewan dan makhluk lainnya; yang mahir dalam tipu daya dan kecurangan, yang demi kekerasan menimbulkan kepanikan di antara mereka; dan yang, sebagai pembawa teror, terus-menerus menyerang makhluk-makhluk itu—orang demikian pasti jatuh ke neraka. Dan bila, oleh putaran roda Waktu, ia kembali lahir sebagai manusia, ia terlahir dalam keluarga hina, diliputi banyak kesukaran serta terhalang oleh tak terbilang rintangan.”
श्रीमहेश्वर उवाच
Cruelty and deliberate harm toward living beings—especially when driven by deceit and habitual aggression—leads to severe karmic consequences: a fall into hell, and even if reborn as human, birth amid hardship and low social conditions.
Śrī Maheśvara addresses a listener (‘O fair one’) and delivers a moral warning: he describes specific acts of tormenting creatures (beating, binding, striking with weapons, inducing panic) and then states the resulting fate across afterlife (naraka) and future rebirth (human birth in an afflicted, low family).