ब्राह्मण–क्षत्रिय-श्रेष्ठता-विवादः
Arjuna–Vāyu Dialogue on Brāhmaṇa and Kṣatriya Precedence
तद् बल॑ तस्य देवस्य धरामुद्धरतस्तथा । “बलदेव (शेष या अनन्त) आदि जो अत्यन्त बलशाली नाग हैं
tad balaṁ tasya devasya dharām uddharatas tathā |
Semoga kekuatan Sang Dewa ketika mengangkat Bumi itu sendiri turun kepadaku sebagai pertambahan daya dan wibawa. Semoga Baladeva—Śeṣa/Ananta, ular agung yang maha perkasa, tak berujung dan tak binasa, senantiasa bertudung—serta para naga besar lain yang lahir dalam garis keturunannya menerima persembahan dariku ini demi pertumbuhan cahaya rohani dan kekuatanku. Ketika Tuhan Nārāyaṇa yang mulia mengangkat Bumi ini dari samudra kosmik tunggal, semoga daya yang hadir dalam wujud sucinya saat itu menjadi milikku.
रेणुक उवाच
The passage frames strength (bala) and spiritual radiance (tejas) as gifts sought through reverent alignment with divine exemplars—especially Nārāyaṇa’s cosmic act of rescuing the Earth—and through respectful offerings to the nāga principle embodied by Śeṣa/Ananta. Power is presented as something to be received ethically via devotion and proper ritual, not seized through harm.
Renukā utters a prayer requesting that the Lord’s strength—manifest when He raised the Earth from the cosmic ocean—be transferred as an increase of her own vigor. She then prescribes a concrete ritual act: placing an offering at a serpent-mound (valmīka), adorning it with nāgakesara and sandal, covering it with blue cloth, and depositing it at sunset for the nāgas to accept.