Adhyāya 119: Vyāsa–Kīṭa-saṃvāda
Tapas-bala and karmic ascent across yoni
कि पुनर्हन्यमानानां तरसा जीवितार्थिनाम् | अरोगाणामपापानां पापैर्मासोपजीविभि:
ki punar hanyamānānāṁ tarasā jīvitārthinām | arogāṇām apāpānāṁ pāpair māṁsopajīvibhiḥ ||
Maka terlebih lagi, betapa besar ketakutan yang timbul pada makhluk-makhluk yang ingin hidup, sehat dan tak bersalah, ketika mereka ditaklukkan lalu dibunuh dengan paksa oleh orang-orang berdosa yang mencari nafkah dari daging. Karena itu, orang bijak dan berbudi luhur hendaknya memandang semua makhluk setara dengan dirinya sendiri dan bertindak demi kesejahteraan mereka. Jika para cendekia yang menginginkan kebaikan bagi dirinya pun tetap dihantui takut akan maut, bagaimana mungkin makhluk tak bersalah yang dibunuh paksa tidak diliputi ketakutan?
भीष्म उवाच
Bhishma underscores empathy and non-violence: a wise person should see all beings as oneself and recognize that forcibly killing innocent, healthy creatures—especially by those who profit from flesh—is a grave ethical wrong that naturally generates fear and suffering.
In Anushasana Parva, Bhishma instructs Yudhishthira on dharma. Here he argues from the reality of death-fear: if even learned people fear death, then innocent beings who are violently killed by meat-dependent sinners will fear all the more—supporting a broader exhortation toward compassion and restraint from harm.