Adhyaya 67
Purva BhagaAdhyaya 6728 Verses

Adhyaya 67

ययातिना पूरौ राज्याभिषेकः, दिक्प्रदानं, तृष्णा-वैराग्योपदेशः, वनप्रवेशः च

Bab ini menggambarkan Yayati berbicara kepada para varṇa dan para tetua: karena pembangkangan dan watak yang berlawanan, putra sulung Yadu tidak layak menjadi raja, sedangkan Puru yang taat pada kewajiban kepada orang tua dipuji. Mengingat anugerah Śukra bahwa putra yang patuh akan memikul kerajaan, Yayati menobatkan Puru di takhta dengan persetujuan umum. Setelah menaklukkan bumi, ia membagikan wilayah menurut arah: Turvasu ke tenggara, Yadu ke selatan, dan Druhyu serta Anu ke barat/utara. Lalu kisah beralih menjadi ajaran rohani melalui gāthā Yayati: nafsu/keinginan tidak pernah habis oleh kenikmatan, malah tumbuh seperti api yang disiram ghee; tanda pencapaian Brahman ialah ahimsa dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan, bebas dari kebencian dan ketakutan; tubuh menua, tetapi dahaga keinginan tetap “tak menua”. Akhirnya Yayati masuk hutan bersama permaisuri, bertapa di Bhṛgutunga, mencapai surga; dan ditegaskan bahwa mendengar atau melantunkan kisah ini menyucikan serta mengangkat menuju kemuliaan di Śivaloka.

Shlokas

Verse 1

इति श्रीलिङ्गमहापुराणे पूर्वभागे षट्षष्टितमो ऽध्यायः ययाति रेलोअदेद् ययातिरुवाच ब्राह्मणप्रमुखा वर्णाः सर्वे शृण्वन्तु मे वचः ज्येष्ठं प्रति यथा राज्यं न देयं मे कथञ्चन

Demikianlah dalam Śrī Liṅga Mahāpurāṇa, bagian awal, dimulailah bab ke-67. Yayāti berkata: “Wahai semua varṇa yang dipimpin para Brāhmaṇa, dengarkan ucapanku; dalam keadaan apa pun aku tidak akan menganugerahkan kerajaan kepada yang sulung.”

Verse 2

मम ज्येष्ठेन यदुना नियोगो नानुपालितः प्रतिकूलमतिश्चैव न स पुत्रः सतां मतः

Yadu, putraku yang sulung, tidak menjalankan perintahku; pikirannya pun berbalik menentang. Karena itu, menurut orang saleh, ia bukan putra sejati.

Verse 3

मातापित्रोर्वचनकृत् सद्भिः पुत्रः प्रशस्यते स पुत्रः पुत्रवद् यस् तु वर्तते मातृपितृषु

Orang baik memuji sebagai putra sejati dia yang melaksanakan sabda ibu dan ayah; sungguh, putra sejati ialah yang berperilaku kepada orang tua dengan bhakti dan kewajiban sebagaimana layaknya seorang anak.

Verse 4

यदुनाहमवज्ञातस् तथा तुर्वसुनापि च द्रुह्येन चानुना चैव मय्यवज्ञा कृता भृशम्

Yadu telah menghina diriku; demikian pula Turvasu. Druhyu dan Anu pun berulang kali menunjukkan ketidak-hormatan besar kepadaku.

Verse 5

पुरुणा च कृतं वाक्यं मानितश् च विशेषतः कनीयान्मम दायादो जरा येन धृता मम

Ucapan Puru dijalankan dan ia dihormati secara khusus. Namun ahli warisku sendiri yang lebih muda—yang menanggung jaraku dan menopang masa tuaku—disisihkan.

Verse 6

शुक्रेण मे समादिष्टा देवयान्याः कृते जरा प्रार्थितेन पुनस्तेन जरा संचारिणी कृता

Śukra memerintahkanku: demi Devayānī, jarā (ketuaan) harus dikenakan padaku. Ketika ia kembali memohon, jarā itu dijadikan ‘dapat berpindah’—mampu beralih dari satu tubuh ke tubuh lain.

Verse 7

शुक्रेण च वरो दत्तः काव्येनोशनसा स्वयम् पुत्रो यस्त्वनुवर्तेत स ते राज्यधरस्त्विति

Kāvya Uśanas, Śukra sendiri, menganugerahkan anugerah ini: “Putra yang setia mengikuti dharma dan perintahmu, dialah penopang kerajaannmu.”

Verse 8

भवन्तो ऽप्यनुजानन्तु पूरू राज्ये ऽभिषिच्यते प्रकृतय ऊचुः यः पुत्रो गुणसम्पन्नो मातापित्रोर्हितः सदा

“Hendaklah kalian semua juga menyetujui: Pūrū ditahbiskan menjadi raja.” Maka rakyat berkata: “Putra yang berkeutamaan dan senantiasa mengabdi pada kesejahteraan ibu-ayahnya, dialah yang layak.”

Verse 9

सर्वमर्हति कल्याणं कनीयान् अपि स प्रभुः अर्हः पूरुरिदं राज्यं यः सुतो वाक्यकृत्तव

Walau lebih muda, putra yang laksana tuan itu layak atas segala keberkahan. Kerajaan ini patut menjadi milik Puru—putramu yang menunaikan sabdamu dan taat pada titahmu.

Verse 10

वरदानेन शुक्रस्य न शक्यं कर्तुमन्यथा ययाति दिस्त्रिबुतेस् थे किन्ग्दोम् सूत उवाच एवं जानपदैस्तुष्टैर् इत्युक्तो नाहुषस्तदा

Karena pengaruh anugerah (vara) dari Śukra, hal itu tak mungkin dilakukan dengan cara lain. Maka Yayāti membagi kerajaan. Sūta berkata: ketika rakyat negeri puas dan berkata demikian, saat itu Nahūṣa pun menjawab. Dalam pandangan Śaiva, kuasa raja pun terikat oleh vara dan ikatan karma (pāśa); kedaulatan sejati milik Pati, Śiva semata.

Verse 11

अभिषिच्य ततो राज्यं पूरुं स सुतम् आत्मनः दिशि दक्षिणपूर्वस्यां तुर्वसुं पुत्रमादिशत्

Kemudian sang raja menobatkan putranya sendiri, Puru, sebagai penguasa; dan untuk wilayah tenggara ia menugaskan putranya Turvasu memerintah.

Verse 12

दक्षिणायामथो राजा यदुं ज्येष्ठं न्ययोजयत् प्रतीच्यामुत्तरस्यां तु द्रुह्युं चानुं च तावुभौ

Lalu sang raja menempatkan Yadu, putra sulung, di wilayah selatan; dan di barat serta utara ia menugaskan Druhyu dan Anu—keduanya—secara berurutan. Demikianlah tatanan penjagaan arah menjadi pola pemerintahan duniawi, berada di bawah kedaulatan luhur Pati, Śiva.

Verse 13

सप्तद्वीपां ययातिस्तु जित्वा पृथ्वीं ससागराम् व्यभजच्च त्रिधा राज्यं पुत्रेभ्यो नाहुषस्तदा

Yayāti, putra Nahūṣa, setelah menaklukkan bumi beserta samudra yang mengelilinginya dan tujuh benua-pulau, lalu membagi kerajaan menjadi tiga bagian dan menganugerahkannya kepada putra-putranya.

Verse 14

पुत्रसंक्रामितश्रीस्तु हर्षनिर्भरमानसः प्रीतिमानभवद्राजा भारम् आवेश्य बन्धुषु

Setelah kemuliaan kerajaan berpindah kepada putranya, sang raja—dengan hati penuh sukacita—menjadi tenang dan penuh kasih, lalu menyerahkan beban pemerintahan kepada para kerabatnya.

Verse 15

अत्र गाथा महाराज्ञा पुरा गीता ययातिना याभिः प्रत्याहरेत् कामान् सर्वतो ऽङ्गानि कूर्मवत्

Inilah gāthā kuno yang dahulu dinyanyikan oleh Maharaja Yayāti—dengannya seseorang hendaknya menarik kembali dorongan nafsu, menghimpun indria dan anggota badan dari segala arah seperti kura-kura, lalu meneguhkan paśu (jiwa individu) menuju Pati, Śiva.

Verse 16

ताभिर् एव नरः श्रीमान् नान्यथा कर्मकोटिकृत् न जातु कामः कामानाम् उपभोगेन शाम्यति

Inilah satu-satunya jalan; bahkan orang yang makmur, meski melakukan berjuta-juta tindakan, tak menemukan cara lain: nafsu terhadap objek tak pernah padam hanya dengan menikmati objek itu.

Verse 17

हविषा कृष्णवर्त्मेव भूय एवाभिवर्धते यत्पृथिव्यां व्रीहियवं हिरण्यं पशवः स्त्रियः

Dengan havis (persembahan suci), hal itu bertambah lagi dan lagi—seperti jalan gelap yang sering dilalui kian menguat; sehingga di bumi muncul kelimpahan padi dan jelai, emas, ternak, serta perempuan (yakni kemakmuran dan kesinambungan rumah tangga).

Verse 18

नालमेकस्य तत्सर्वम् इति मत्वा शमं व्रजेत् यदा न कुरुते भावं सर्वभूतेषु पापकम्

Mengetahui bahwa semua ini tidaklah cukup untuk satu orang saja, hendaknya seseorang memasuki śama (ketenteraman batin). Ketenteraman sejati datang ketika ia tidak menumbuhkan niat berdosa dan menyakiti terhadap makhluk mana pun.

Verse 19

कर्मणा मनसा वाचा ब्रह्म सम्पद्यते तदा यदा परान्न बिभेति परे चास्मान्न बिभ्यति

Melalui perbuatan, pikiran, dan ucapan, saat itulah keadaan Brahman dicapai: ketika ia tidak takut kepada siapa pun, dan orang lain pun tidak takut kepadanya. Inilah tanda jiwa-paśu menjadi murni dan teguh dalam Pati (Tuhan Śiva) setelah ikatan pāśa tersingkir.

Verse 20

यदा न निन्देन्न द्वेष्टि ब्रह्म सम्पद्यते तदा या दुस्त्यजा दुर्मतिभिर् यानजीर्यति जीर्यतः

Ketika seseorang tidak mencela dan tidak membenci, saat itulah ia mencapai keadaan Brahman. Sikap batin yang sulit ditinggalkan oleh mereka yang berpikiran buruk itu tidak lapuk meski tubuh menua dan lapuk.

Verse 21

यो ऽसौ प्राणान्तिको रोगस् तां तृष्णां त्यजतः सुखम् जीर्यन्ति जीर्यतः केशा दन्ता जीर्यन्ति जीर्यतः

Tṛṣṇā itu adalah penyakit yang mengantar hidup ke ujungnya; bagi yang meninggalkannya, ada damai dan bahagia. Seiring waktu rambut menua; seiring waktu gigi pun menua—dalam penuaan, segala sesuatu ikut melapuk.

Verse 22

चक्षुःश्रोत्रे च जीर्येते तृष्णैका निरुपद्रवा जीर्यन्ति देहिनः सर्वे स्वभावादेव नान्यथा

Mata dan telinga pun menua; hanya tṛṣṇā saja yang seakan tanpa gangguan dan tak lelah. Semua makhluk berjasad pasti menua oleh kodratnya sendiri—tidak ada jalan lain.

Verse 23

जीविताशा धनाशा च जीर्यतो ऽपि न जीर्यते यच्च कामसुखं लोके यच्च दिव्यं महत्सुखम्

Harapan akan hidup dan harapan akan harta tidak menua meski tubuh menua. Dan kenikmatan nafsu di dunia, bahkan kebahagiaan agung yang disebut surgawi—(semuanya pun tidak memuaskan tṛṣṇā jiwa yang terikat).

Verse 24

तृष्णाक्षयसुखस्यैतत् कलां नार्हति षोडशीम् एवमुक्त्वा स राजर्षिः सदारः प्राविशद्वनम्

Kesenangan duniawi ini tidak layak bahkan seperenam belas bagian dari kebahagiaan yang lahir dari lenyapnya nafsu-haus (tṛṣṇā). Demikian berkata, sang rājaṛṣi bersama istrinya memasuki hutan.

Verse 25

भृगुतुङ्गे तपस्तप्त्वा तत्रैव च महायशाः साधयित्वा त्वनशनं सदारः स्वर्गमाप्तवान्

Di Bhṛgutunga ia menjalankan tapa yang keras; orang termasyhur itu menuntaskan laku anaśana (puasa suci) di sana juga, lalu bersama istrinya mencapai surga.

Verse 26

तस्य वंशास्तु पञ्चैते पुण्या देवर्षिसत्कृताः यैर्व्याप्ता पृथिवी कृत्स्ना सूर्यस्येव मरीचिभिः

Darinya lahir lima garis keturunan—suci dan dihormati para dewa-ṛṣi. Melalui mereka seluruh bumi merata terliputi, bagaikan oleh sinar-sinar Sang Surya.

Verse 27

धनी प्रजावान् आयुष्मान् कीर्तिमांश् च भवेन्नरः ययातिचरितं पुण्यं पठञ्छृण्वंश् च बुद्धिमान्

Orang bijak yang membaca atau mendengarkan kisah suci Raja Yayāti menjadi kaya, berketurunan, panjang umur, dan termasyhur.

Verse 28

सर्वपापविनिर्मुक्तः शिवलोके महीयते

Ia terbebas dari segala dosa dan dimuliakan di Śivaloka.

Frequently Asked Questions

Because Yadu is described as not following the niyoga/command and possessing a contrary disposition, whereas Puru is portrayed as the son who honors parental words and therefore becomes eligible to uphold rajadharma.

That desire is not pacified by enjoyment; it increases like fire fed by ghee. True peace comes from restraint, non-harming, and the inner abandonment of craving—presented as a route to brahman-attainment and, by the chapter’s phalaśruti, exaltation in Shiva-loka.