
Ajāna Lineages, Divine Classes, Ṛṣi Catalogues, and the Merit of Śravaṇa-Smaraṇa
Menjawab permohonan Garuḍa, Śrī Kṛṣṇa menjelaskan hakikat “Yang Tak-Lahir (Aja/An-janma)” beserta golongan yang terkait. Ia menerangkan para dewa Ajāna/Ajanaja sebagai penguasa yang terikat garis keturunan dan memimpin kerja (karma), lalu menyebut nama-nama perwakilan Gandharva dan makhluk sejenis. Uraian meluas pada tingkatan: Gandharva, Apsaras (dikatakan amat banyak karena kebodohan), Yakṣa, dan terutama para ṛṣi yang dipuji setara dengan Yang Tak-Lahir serta lebih luhur daripada makhluk yang sekadar lahir dari karma. Kṛṣṇa memberikan katalog panjang para resi, menegaskan bahwa mendengar nama-nama mereka menyenangkan Hari. Ia juga menyebut para istrinya sebagai putri Agni, menonjolkan keutamaan Kaśerū, serta menelusuri asal-usul para Pitṛ dari Ajāna dan jumlah mereka yang sangat besar. Bab ditutup dengan menempatkan utusan ilahi dan Deva-Gandharva di atas raja dan manusia duniawi, lalu menekankan praktik: pembacaan dan pendengaran (śravaṇa-smaraṇa) menyucikan dan mendatangkan anugerah Hari, sedangkan kelalaian adalah delusi lahir dari māyā. Peringatan akhir mengaitkan ingatan rohani dengan laku harian sebagai jembatan menuju ajaran berikutnya tentang hidup benar dan akibatnya.
Verse 1
अजानजस्वरूपं च ब्रूहि कृष्ण महामते / तदन्यांश्च क्रमेणेव वक्तुं कृष्ण त्वमर्हसि
Wahai Kṛṣṇa, wahai yang amat bijaksana! Jelaskanlah hakikat Ajāna (Yang Tak-Lahir); kemudian, secara berurutan, engkau patut pula menguraikan hal-hal lainnya, wahai Kṛṣṇa.
Verse 2
श्रीकृष्ण उवाच / अजानाख्या देवतास्तु तत्तद्देवकुले भवाः / अजानदेवतास्ता हि तेभ्योग्याः कर्मदेवताः
Śrī Kṛṣṇa bersabda: Para dewa yang disebut Ajāna lahir dalam garis keturunan ilahi masing-masing. Sesungguhnya para Ajāna-dewa itulah dewa penguasa perbuatan (karma), yang sesuai dengan tiap-tiap garis tersebut.
Verse 3
विराधश्चारुदेष्णश्च तथा चित्ररथस्तथा / धृतराष्ट्रः किशोरश्च हूहूर्हाहास्तथैव च
Virādha, Ārudeṣṇa, dan Citraratha; Dhṛtarāṣṭra dan Kiśora; demikian pula Hūhū dan Hāhā.
Verse 4
विद्याधरश्चोग्रसेनो विश्वावसुपरावसू / चित्रसेनश्च गोपालो बलः पञ्चदश स्मृताः
Vidyādhara, Ugrasena, Viśvāvasu dan Parāvasu; juga Citrasena, Gopāla, dan Bala—mereka dikenang sebagai bagian dari kelima belas (nama) itu.
Verse 5
एवमाद्यश्च गन्धर्वाः शतसंख्याः खगेश्वर / अजानजसमा ज्ञेया मुक्तौ संसार एव च
Wahai Khageśvara Garuḍa, para Gandharwa purba hendaknya dipahami berjumlah ratusan; dan mereka dikenal setara dengan Ajanaja, baik dalam keadaan mokṣa maupun dalam kehidupan duniawi.
Verse 6
अज्ञानजास्तु मे देवाः कर्मजेभ्यः शतावराः / घृताची मेनका रंभा उर्वशी च तिलोत्तमा
Namun para dewa yang lahir dari ketidaktahuanku berjumlah seratus kali lebih banyak daripada yang lahir dari karma yang benar—seperti Ghṛtācī, Menakā, Rambhā, Urvaśī, dan Tilottamā.
Verse 7
सुकेतुः शबरी चैव मञ्जुघोषा च पिङ्गला / इत्यादिकं यक्षरत्नं सह संपरिकीर्तितम्
Suketu, Śabarī, Mañjughoṣā, dan Piṅgalā—beserta yang lain—di sini dipuji bersama sebagai Yakṣa laksana permata.
Verse 8
अजानजसमा ह्येते कर्मजेभ्यः शतावराः / विश्वामित्रो वसिष्ठश्च नारदश्च्यवनस्तथा
Sesungguhnya mereka setara dengan Ajanaja (Brahmā) dan seratus kali lebih unggul daripada yang sekadar lahir dari karma—yakni Viśvāmitra, Vasiṣṭha, Nārada, dan Cyavana.
Verse 9
उतथ्यश्च मुनिश्चैतान्द्राजपित्वा खगेश्वर / ऋषयश्च महात्मानो ह्यजानजसमाः स्मृताः
Wahai Khageśvara, resi Utathya setelah menuturkan hal-hal ini dengan semestinya; para ṛṣi agung itu dikenang setara dengan Ajanaja.
Verse 10
शतर्चिः कश्यपो ज्ञेयो मध्यमश्च पराशरः / पावमान्यः प्रगाथश्च क्षुद्रसूक्तश्च देवलः
Ketahuilah bahwa Śatarci juga disebut Kaśyapa; yang disebut ‘Madhyama’ ialah Parāśara. Pāvamānya adalah Pragātha, dan Kṣudrasūkta ialah Devala.
Verse 11
गृत्समदो ह्यासुरिश्च भरद्वाजोथ मुद्गलः / उद्दालको ह्यृ शृङ्गः शङ्खः सत्यव्रतस्तथा
Gṛtsamāda, Āsuri, Bharadvāja, dan Mudgala; demikian pula Uddālaka, Ṛśṛṅga, Śaṅkha, dan Satyavrata—mereka pun termasuk para resi yang dimuliakan.
Verse 12
सुयज्ञश्चैव बाभ्रव्यो माण्डूकश्चैव बाष्कलः / धर्माचार्यस्तथागस्त्यो दाल्भ्यो दार्ढ्यच्युतस्तथा
Suyajña, Bābhravya, Māṇḍūka, dan Bāṣkala; demikian pula Dharmācārya, Agastya, Dālbhyā, dan Dārḍhyacyuta—mereka pun disebutkan.
Verse 13
कवषो हरितः कण्वो विरूपो मुसलस्तथा / विष्णुवृद्धश्च आत्रेयः श्रीवत्सो वत्सलेत्यपि
Kavaṣa, Harita, Kaṇva, Virūpa, dan Musala; demikian pula Viṣṇuvṛddha, Ātreya, serta Śrīvatsa dan Vatsala—mereka pun para resi.
Verse 14
भार्गवश्चाप्नवानश्च माण्डूकेयस्तथैव / मण्ड्कश्चैव जाबचलिः वीतिहव्यस्तथैव च
Bhārgava, Āpnavāna, dan Māṇḍūkeya; demikian pula Maṇḍaka, Jābacali, dan Vītihavya—mereka pun para resi.
Verse 15
गृत्समदः शौनकश्च इत्याद्या ऋषयः स्मृताः / एतेषां श्रवणादेव हरिः प्रीणाति सर्वदा
Gṛtsamada, Śaunaka, dan para resi lainnya dikenang dalam tradisi suci. Hanya dengan mendengar nama-nama mereka, Hari (Viṣṇu) senantiasa berkenan.
Verse 16
ब्रुवे द्व्यष्टसहस्रं च शृणु तार्क्ष्य मम स्त्रियः / अग्निपुत्रास्तु यद्द्व्यष्टसहस्रञ्च मम स्त्रियः / अजानजसमा ह्येता (ते) नात्र कार्या विचारणा
Aku menyatakan: dengarlah, wahai Tārkṣya—istriku berjumlah dua ribu dua puluh delapan. Kedua ribu dua puluh delapan istriku itu adalah putri-putri Agni; mereka murni bagaikan yang tak-bercacat sejak asal, maka tiada perlu keraguan atau penyelidikan lagi.
Verse 17
त्वष्टुः पुत्री कशेरूश्च तासां मध्ये गुणाधिका / तदनन्तरजान्वक्ष्ये शृणु सम्यक् खगेश्वर
Kaśerū, putri Tvaṣṭṛ, adalah yang paling unggul dalam kebajikan di antara mereka. Kini akan kuuraikan mereka yang lahir sesudahnya—dengarkan dengan saksama, wahai raja burung.
Verse 18
आजानेभ्यस्तु पितरः सप्तभ्योन्ये शतावराः / तथाधिका हि पितर इति वेदविदां मतम्
Dari para Ājāna muncullah para Pitṛ. Dari tujuh (golongan) itu ada Pitṛ lainnya berjumlah ratusan. Bahkan Pitṛ lebih banyak daripada itu—demikian pandangan para ahli Veda.
Verse 19
तदनन्तराजान्वक्ष्ये शृणु त्वं द्विजसत्तम / अष्टाभ्यो देवगन्धर्वा अष्टोत्तरशतं विना
Kini akan kuuraikan raja-raja sesudahnya—dengarkan, wahai yang terbaik di antara para dvija. Para dewa-gandharva disebut berjumlah seratus delapan, tidak termasuk delapan yang utama.
Verse 20
तेभ्यः शतगुणानन्दा देवप्रेष्यास्तु मुख्यतः / स्वमुकेनेव देवैश्च आज्ञाप्याः सर्वदा गणाः
Dibanding mereka, para devapreṣya—utusan ilahi—memiliki kebahagiaan seratus kali lipat dan menjadi yang utama; rombongan mereka senantiasa diperintah para dewa seakan dari mulut para dewa sendiri.
Verse 21
आख्याता देवगन्धर्वास्तेभ्यस्ते च शतावराः / तेभ्यस्तु क्षितिपा ज्ञेया अवराश्च शतैर्गुणैः
Para Deva-Gandharva dinyatakan sebagai golongan yang lebih tinggi; di bawah mereka ada yang disebut Śatāvara, seratus tingkat lebih rendah; dan di bawah itu para raja di bumi harus dipahami lebih rendah lagi—dengan ratusan derajat dalam kualitas.
Verse 22
तेभ्यः शतगुणाज्ञेया मानुषेषूत्तमा गणाः / एवं प्रासंगिकानुक्त्वा प्रकृतं ह्यनुसराम्यहम् / एवं ब्रह्मादयो देवा लक्ष्म्याद्या अपि सर्वशः
Dibanding mereka, golongan terbaik di antara manusia harus dipahami seratus kali lebih unggul. Setelah menyebut hal yang sekadar sampingan ini, kini aku melanjutkan pokok bahasan. Demikian pula para dewa mulai dari Brahmā, dan juga semua yang ilahi mulai dari Lakṣmī, hendaknya dipahami.
Verse 23
स्तुत्वा तूष्णीं स्थिताः सर्वे प्राञ्जलीकृत्य भो द्विज
Setelah melantunkan pujian, mereka semua berdiri hening dengan kedua tangan terkatup—wahai dvija.
Verse 24
तेषामायतनं दातुं मनसा समचिन्तयत्
Ia merenungkan dalam batinnya bagaimana memberikan tempat tinggal yang layak bagi mereka.
Verse 25
इदं पवित्रमारोग्यं पुण्यं पापप्रणाशनम् / हरिप्रसादजनकं स्वरूपसुखसाधनम्
Ajaran ini menyucikan dan menyehatkan; ia penuh pahala dan menghancurkan dosa. Ia mendatangkan anugerah Hari dan menjadi sarana kebahagiaan hakikat diri (svarūpa).
Verse 26
इदं तु स्तवनं विप्रा न पठन्तीह मानवाः / न शृण्वन्ति च ये नित्यं ते सर्वे चैव मायिनः
Wahai para brāhmaṇa, manusia yang tidak melantunkan stawa ini dan tidak pula mendengarnya setiap hari—ketahuilah, mereka semua terpedaya oleh māyā.
Verse 27
नस्मरन्तोन्तरं नित्यं ये भुञ्जन्ति नराधमाः / तैर्भुक्ता सततं विष्ठा सदा क्रिमिशतैर्युता
Mereka yang paling hina, yang makan tanpa senantiasa mengingat Sang Antaryāmin di dalam hati—di alam baka mereka terus-menerus memakan kotoran yang dipenuhi ratusan cacing.
They are described as arising within their respective divine lineages and serving as presiding powers connected to actions (karma), implying a governance of activity and its fruits through lineage-specific divine agency.
It uses repeated “hundredfold” comparisons to express relative excellence and happiness: divine emissaries are said to enjoy happiness far exceeding Gandharvas; Deva-Gandharvas are placed higher than other Gandharva classes; earthly kings are ranked below these, with the best humans described as superior to lower human groupings.