Adhyaya 253
VyavaharaAdhyaya 25327 Verses

Adhyaya 253

Chapter 253 — व्यवहारकथनम् (The Account of Legal Procedure)

Dewa Agni melanjutkan ajaran Vyavahāra dengan menetapkan norma yang dapat ditegakkan untuk penagihan utang dan tanggungan terkait. Pelunasan mengikuti urutan prioritas—terutama kewajiban kepada Brāhmaṇa dan kepada raja—serta ditegakkan oleh wewenang kerajaan dengan biaya penagihan yang ditentukan. Upaya hukum dibedakan menurut keadaan sosial-ekonomi: debitur miskin berkedudukan rendah melunasi melalui kerja, sedangkan Brāhmaṇa miskin membayar bertahap dengan angsuran. Tanggung jawab juga meluas kepada ahli waris, keluarga bersama, dan suami-istri dalam syarat tertentu. Diatur pula pratibhū (penjamin) untuk kehadiran, pembuktian, dan pembayaran; termasuk aturan banyak penjamin, kelalaian, serta penggantian bagi penjamin yang membayar di muka umum. Selanjutnya dibahas ādhi (gadai/hipotek): batas penyitaan, waktu penebusan, gadai menikmati hasil (phalabhogya), pembagian risiko bila terjadi kehilangan, dan penggantian bila nilai merosot. Terakhir, nikṣepa (titipan), termasuk titipan tersegel yang tidak diungkap (aupanidhika), pengecualian atas kehilangan karena tindakan negara atau bencana, serta hukuman atas penggelapan—mewujudkan yurisprudensi dharmis yang menegakkan kepercayaan dalam transaksi, harta, dan kewajiban keluarga melalui pengadilan raja.

Shlokas

Verse 1

इत्य् आग्नेये महापुराणे व्यवहारो नाम द्विपञ्चाशदधिकद्विशततमो ऽध्यायः अथ त्रिपञ्चाशदधिकद्विशततमो ऽध्यायः व्यवहारकथनं अग्निर् उवाच गृहीतार्थः क्रमाद्दाप्यो धनिनामधमर्णिकः दत्वा तु ब्राह्मणायादौ नृपतेस्तदनन्तरम्

Demikian berakhir dalam Agni Mahāpurāṇa bab ke-252 yang bernama “Vyavahāra (Tata Hukum)”. Kini dimulai bab ke-253, “Uraian Vyavahāra”. Agni bersabda: Seorang debitur yang telah menerima harta orang lain wajib membayar para kreditur menurut urutan; mula-mula kepada Brāhmaṇa, kemudian kepada raja.

Verse 2

राज्ञाधमर्णिको दाप्यः साधिताद्दशकं स्मृतम् पञ्चकन्तु शतं दाप्यः प्राप्तार्थो ह्य् उत्तमर्णकः

Atas perintah raja, debitur harus dipaksa membayar; setelah penagihan berhasil, sepersepuluh diambil sebagaimana diajarkan dalam Smṛti. Namun untuk seratus, hendaknya diambil lima (yakni lima persen), sebab kreditur telah memperoleh haknya.

Verse 3

हीनजातिं परिक्षीणमृणार्थं कर्म कारयेत् ब्राह्मणस्तु परिक्षीणः शनैर् दाप्यो यथोदयम्

Seseorang dari golongan lebih rendah yang jatuh miskin boleh disuruh bekerja untuk melunasi utang. Namun bila seorang Brāhmaṇa jatuh miskin, ia hendaknya diminta membayar perlahan-lahan, dengan angsuran, sesuai penghasilan yang muncul.

Verse 4

दीयमानं न गृह्णाति प्रयुक्तं यः स्वकन्धनम् मध्यस्थस्थापितं तत्स्याद्वर्धते न ततः परं

Barangsiapa tidak menerima pemberian yang diberikan dengan semestinya dan tidak menggunakan hartanya sendiri, maka hartanya seakan dititipkan pada penjaga netral; tidak bertambah lebih dari itu.

Verse 5

ऋक्थग्राह ऋणं दाप्यो योषिद्ग्राहस्तथैव च पुत्रो ऽनन्याश्रितद्रव्यः पुत्रहीनस्य ऋक्थिनः

Siapa yang mengambil warisan (ṛktha) wajib membayar utang; demikian pula orang yang mengambil istri (dalam perwalian/nikah janda). Namun putra dari pewaris yang tak berputra—bila hartanya tidak bergantung pada orang lain—dialah ahli waris yang sah.

Verse 6

अविभुक्तैः कुटुम्बार्थं यदृणन्तु कृतम्भवेत् दद्युस्तदृक्थिनः प्रेते प्रोषिते वा कुटुम्बिनि

Jika keluarga bersama yang belum terbagi berutang demi kepentingan rumah tangga, maka para ahli waris wajib melunasinya ketika kepala keluarga wafat atau lama pergi.

Verse 7

न योषित् पतिपुत्राभ्यां न पुत्रेण कृतं पिता दद्यादृते कुटुम्बार्थान्न पतिः स्त्रीकृतं तथा

Istri tidak boleh memberikan atau membagikan harta yang diperoleh suami atau putra; ayah pun tidak boleh memberikan harta yang diperoleh putranya—kecuali untuk kebutuhan keluarga. Demikian pula suami tidak boleh memberikan harta yang diperoleh istri.

Verse 8

गोपशौण्डिकशैनूषरजकव्याधयोषितां ऋणं दद्यात्पतिस्त्वासां यस्माद्वृत्तिस्तदाश्रया

Suami wajib melunasi utang para perempuan seperti istri penggembala sapi, penjual minuman keras, pelayan perkemahan (śainūṣa), tukang cuci, dan pemburu; sebab penghidupan mereka bergantung padanya.

Verse 9

प्रतिपन्नं स्त्रिया देयं पत्या वा सह यत् कृतं स्वयं कृतं वा यदृणं नान्यस्त्री दातुमर्हति

Utang yang telah diambil secara sah wajib dibayar oleh perempuan itu sendiri—baik dibuat bersama suaminya maupun ditanggung olehnya sendiri. Tidak ada perempuan lain yang berhak atau berkewajiban membayarnya.

Verse 10

पितरि प्रोषिते प्रेते व्यसाभिप्लुते ऽथ वा पुत्रपौत्रैर् ऋणन्देयं निह्नवे साक्षिभावितम्

Bila ayah sedang pergi jauh, atau telah wafat, atau tertimpa bencana, maka utang harus dibayar oleh putra dan cucu; dan bila ada penyangkalan, hendaklah ditegakkan dengan kesaksian para saksi.

Verse 11

सुराकामद्यूतकृतन्दण्डशुल्कावशिष्टकम् वृथा दानं तथैवेह पुत्रो दद्यान्न पैतृकम्

Sedekah yang diberikan dari sisa harta yang diperoleh melalui minuman keras, hawa nafsu, perjudian, denda, dan bea/pungutan adalah sia-sia di sini (tanpa pahala dharma). Demikian pula, seorang putra tidak patut menghibahkan harta warisan ayahnya.

Verse 12

भ्रातॄणामथ दम्पत्योः पितुः पुत्रस्य चैव हि व्यसनाभिप्लुतेपि वेति ख , घ , ञ च प्रतिभाव्यमृणं ग्राह्यमविभक्तेन च स्मृतम्

Dalam hal saudara-saudara, suami-istri, serta ayah dan anak—meskipun salah satu tertimpa bencana—utang yang dijamin dengan penjamin (pratibhā) tetap dapat ditagih; dan juga dinyatakan bahwa anggota keluarga yang belum terbagi (sekutu tak terbagi) turut bertanggung jawab atas penagihan itu.

Verse 13

दर्शने प्रत्यये दाने प्रतिभाव्यं विधीयते आधौ तु वितथे दाप्या वितथस्य सुता अपि

Dalam perkara kehadiran (di pengadilan), pembuktian, dan pemberian/penyerahan, penetapan penjamin (pratibhā) ditetapkan. Namun bila sejak awal penjamin itu ternyata palsu atau gagal, maka bahkan putri dari penjamin yang palsu itu pun dapat diwajibkan membayar.

Verse 14

दर्शनप्रतिभूर्यत्र मृतः प्रात्ययिको ऽपि वा न तत्पुत्रा धनं दद्युर्दद्युर्दानाय ये स्थिताः

Apabila penjamin untuk menghadirkan (atau menyerahkan) seseorang telah wafat—atau bahkan penjamin pembayaran pun wafat—maka anak-anaknya tidak boleh dibebani membayar uang itu; sebaliknya, mereka yang ditunjuk untuk penyaluran amal hendaknya memberikannya sebagai dana.

Verse 15

बहवः स्युर्यदि स्वांशैर् दद्युः प्रतिभुवो धनम् एकच्छायाश्रितेष्वेषु धनिकस्य यथा रुचि

Jika penjamin banyak dan masing-masing membayar sesuai bagiannya, maka terhadap mereka yang berada di bawah satu perlindungan (dipandang sebagai satu kelompok), sang kreditur boleh bertindak menurut pilihannya.

Verse 16

प्रतिभूर्दापितो यत्र प्रकाशं धनिने धनम् द्विगुणं प्रतिदातव्यमृणिकैस्तस्य तद्भवेत्

Di mana seorang penjamin (pratibhū) dipaksa membayar utang kepada kreditur secara terbuka dan sah, maka si berutang wajib mengembalikan kepada penjamin itu jumlah tersebut secara dua kali lipat; kewajiban itu jatuh pada si berutang.

Verse 17

स्वसन्ततिस्त्रीपशव्यं धान्यं द्विगुणमेव च वस्त्रं चतुर्गुणं प्रोक्तं रसश्चाष्टगुणस् तथा

Mengenai keturunan sendiri, perempuan, dan ternak, biji-bijian ditetapkan dua kali lipat; kain dinyatakan empat kali lipat; dan sari cair seperti ghee dan sejenisnya delapan kali lipat.

Verse 18

आधिः प्रणश्येत् द्विगुणे धने यदि न मोक्ष्यते काले कालकृतं नश्येत् फलभोग्यो न नश्यति

Barang gadai (ādhi) menjadi gugur ketika utang telah menjadi dua kali lipat; bila tidak ditebus pada waktu yang ditetapkan, ia hilang karena lewatnya waktu. Namun gadai untuk menikmati hasilnya (phalabhogya) tidak gugur.

Verse 19

गोप्याधिभोग्यो नावृद्धिः सोपकारे ऽथ भाविते नष्टो देयो विनष्टश् च दैवराजकृतादृते

Barang gadai/titipan yang wajib disimpan tersembunyi dan tidak untuk dinikmati tidak menghasilkan kenaikan (bunga). Namun bila dipakai untuk mencari laba, maka meski hilang harus diganti, dan meski musnah harus diberi kompensasi—kecuali kerugian karena kehendak Ilahi atau tindakan raja/negara.

Verse 20

आधेः स्वीकरणात्सिद्धौरक्षमाणोप्यसारताम् यातश्चेदन्य आधेयो धनभाग् वा धनी भवेत्

Jika gadai telah diterima dan ditetapkan secara sah, lalu barang gadai menurun nilai/keutuhannya meski dijaga, maka boleh diambil barang lain sebagai gadai; atau kreditur berhak atas bagian dari harta debitur, bahkan menjadi pemilik sejauh itu.

Verse 21

चरित्रं बन्धककृतं सवृद्धं दापयेद्वनं सत्यङ्कारकृतं द्रव्यं द्विगुणं प्रतिदापयेत्

Utang yang timbul dari gadai harus dipaksa dibayar beserta pertambahannya (bunga). Namun harta yang diperoleh melalui ‘peneguhan sumpah kebenaran’ yang curang harus dikembalikan dua kali lipat.

Verse 22

उपस्थितस्य मोक्तव्य आधिर्दण्डो ऽन्यथा भवेत् प्रयोजके सति धनं कुलेन्यस्याधिमाप्नुयात्

Ketika pihak penggadai datang (dengan jumlah yang wajib dibayar), barang gadai harus dilepaskan; jika tidak, dikenakan denda. Bila penggadai tidak hadir tetapi ada wakil yang sah, wakil itu dapat menebus gadai atas nama keluarga dan mengambil kembali harta/barang tersebut.

Verse 23

तत्कालकृतमूल्यो वा तत्र तिष्ठेदवृद्धिकः प्रतिभाव्यमृणं साक्ष्यमविभक्तेन तत् स्मृतमिति ख , ग , घ , छ , ज , ट च विना धारणकाद्वापि विक्रीणीते ससाक्षिकम्

Atau, dengan menetapkan harga menurut nilai pada saat itu, hendaknya ia tetap di sana tanpa memungut pertambahan (bunga). Utang yang dijamin penanggung, dan kesaksian dari pemilik bersama yang belum terbagi (bukan saksi yang berdiri sendiri), demikianlah diingat dalam Smṛti. (Dalam bacaan kha, ga, gha, cha, ja, ṭa) juga dinyatakan: tanpa surat tertulis pun, jual-beli sah bila dilakukan di hadapan para saksi.

Verse 24

यदा तु द्विगुणीभूतमृणमाधौ तदा खलु मोच्यश्चाधिस्तदुत्पाद्य प्रविष्टे द्विगुणे धने

Apabila dalam gadai/hipotek utang telah menjadi dua kali lipat, maka barang gadai wajib dilepaskan; setelah hasil/manfaatnya dipungut, ketika nilai yang diterima mencapai dua kali pokok, pemegang gadai dianggap puas.

Verse 25

व्यसनस्थमनाख्याय हस्ते ऽन्यस्य यदर्पयेत् द्रव्यं तदौपनिधिकं प्रतिदेयं तथैव तत्

Jika seseorang yang sedang tertimpa kesusahan menitipkan harta ke tangan orang lain tanpa menjelaskan rinciannya, itu disebut aupanidhika (titipan tersembunyi/tidak diungkap); wajib dikembalikan persis sebagaimana adanya.

Verse 26

न दाप्यो ऽपहृतं तत्तु राजदैवकतस्करैः प्रेषश्चेन्मार्गिते दत्ते दाप्यो दण्डश् च तत्समम्

Harta yang dirampas oleh pejabat raja, karena bencana takdir (ilahi), atau oleh pencuri, tidak wajib diganti oleh penjaga/agen; namun bila setelah diminta dan dicari, seorang pelayan/agen menyerahkannya (yakni semula disembunyikan), ia wajib membayar denda senilai harta itu.

Verse 27

आजीवन् स्वेच्छया दण्ड्यो दाप्यस्तच्चापि सोदयं याचितावाहितन्यासे निक्षेपेष्वप्ययं विधिः

Siapa yang ketika masih hidup dengan kehendak sendiri menggelapkan titipan (nikṣepa), ia patut didenda dan wajib mengembalikan harta itu beserta pertambahan/keuntungannya. Ketentuan ini berlaku pula pada yācita-nyāsa, āvahita-nyāsa, dan semua jenis titipan.

Frequently Asked Questions

A debtor who has received another’s wealth must repay in due order, giving priority to what is owed to a Brāhmaṇa first, and then what is owed to the king, before other creditors are addressed.

Surety is prescribed for appearance, proof, and payment. If a surety is compelled to pay the creditor publicly, the original debtor becomes liable to repay the surety in double, shifting the burden back onto the debtor as a deterrent against default.

A pledge may be forfeited when the debt becomes double or if not redeemed at the stipulated time; however, a pledge held for enjoyment of produce (phalabhogya) is not forfeited in the same way, reflecting a distinct legal category.

Property entrusted in distress without declaring its particulars is treated as an aupanidhika (sealed/undisclosed deposit) and must be returned exactly as it was, emphasizing strict custodial duty.