
Puṣpādhyāya-kathana (Account of Flowers in Worship)
Melanjutkan petunjuk praktis pemujaan dalam Vrata-khaṇḍa, Bhagavān Agni menjelaskan kepada Resi Vasiṣṭha bahwa persembahan—terutama bunga serta bahan harum—adalah sarana bhakti yang tertib, menyenangkan Hari (Viṣṇu), dan menghasilkan buah bertingkat: lenyapnya dosa (pāpa-hāni), kenikmatan duniawi (bhukti), pembebasan (mukti), hingga mencapai Viṣṇuloka. Mula-mula dipaparkan daftar bunga dan daun yang ‘layak bagi dewa’ (deva-yogya) beserta hasil rohani khusus dari berbagai upahāra; lalu ditegaskan batasan agar pemujaan menghindari bahan yang layu, patah, cacat, atau tidak suci/kurang mujur. Dibedakan pula menurut tradisi: sebagian bunga cocok bagi Viṣṇu, sedangkan Śiva dipuja dengan bunga lain, dan ada persembahan tertentu yang terlarang bagi Śiva. Ajaran memuncak pada penghayatan batin: ‘bunga’ tertinggi adalah kebajikan etis dan kontemplatif—ahiṃsā, penaklukan indria (indriya-jaya), kṣānti, dayā, śama, tapaḥ, dhyāna, satya (sebagian naskah menambahkan śraddhā)—sehingga ketelitian ritual lahir disempurnakan oleh watak batin. Penutup menempatkan persembahan ini dalam kerangka pūjā yang teratur (āsana, mūrti-pañcāṅga, aṣṭa-puṣpikā) serta urutan nama-dewa (Vāsudeva-ādi untuk Viṣṇu; Īśāna-ādi untuk Śiva).
No shlokas available for this adhyaya yet.
Flowers and fragrant substances (gandha, dhūpa, dīpa, naivedya) are emphasized, with extensive lists of specific blossoms, lotuses, aromatic leaves, and also bilva and śamī leaves; the text also highlights that devotion (bhakti) makes all admissible offerings effective.
They are inner virtues presented as worship-offerings—commonly ahiṃsā, indriya-nigraha/jaya, kṣānti, dayā, śama/śānti, tapaḥ, dhyāna, and satya (with manuscript variation also referencing śraddhā). They are central because they complete external pūjā with ethical and contemplative transformation, aligning ritual with mukti.
One should avoid withered/fallen items, broken or damaged materials, and offerings marked by defects (described as “extra limbs/defects”); additionally, certain flowers are disallowed for Śiva, and inauspicious, non-fragrant items (e.g., associated with kuṣmāṇḍa or nimba in the text’s phrasing) are rejected.
It combines (1) catalog-style taxonomies of flowers and offering-types, (2) ritual-legal admissibility rules, (3) deity-specific liturgical distinctions, and (4) a moral psychology of worship via the inner ‘flowers’—integrating technical detail with the spiritual goals of bhukti and mukti.