
Aṣṭamī-vratāni — Jayantī (Janmāṣṭamī) Vrata with Rohiṇī in Bhādrapada
Dewa Agni memulai rangkaian Aṣṭamī-vrata dengan menetapkan laku utama pada aṣṭamī yang bertepatan dengan nakṣatra Rohiṇī di paruh gelap bulan Bhādrapada; karena kelahiran Śrī Kṛṣṇa terjadi pada pertemuan itu, hari tersebut disebut Jayantī. Vrata ini berpusat pada pemujaan tengah malam: setelah upavāsa (puasa) untuk penyucian batin, dilakukan pemasangan/penetapan arca (pratiṣṭhā) dan pemanggilan Kṛṣṇa bersama Balabhadra serta lingkar orang tua—Devakī, Vasudeva, Yaśodā, Nanda. Dengan mantra dipersembahkan upacāra: snāna, arghya, puṣpa, dhūpa, dīpa, nivedya, sambil memuji Govinda sebagai sumber Yoga, Yajña, Dharma, dan jagat raya. Unsur khasnya ialah pemujaan Candra bersama Rohiṇī serta arghya kepada Śaśāṅka. Pada tengah malam puncaknya berupa persembahan aliran gula aren (jaggery) bercampur ghee sambil melafalkan nama-nama suci. Penutupnya dāna (kain, emas) dan memberi makan brāhmaṇa. Buahnya: lenyap dosa tujuh kelahiran, keturunan, tanpa takut melalui pelaksanaan tahunan, dan mencapai Viṣṇuloka—menyatukan bhukti dan mukti.
No shlokas available for this adhyaya yet.
The vow is emphasized for Bhādrapada’s kṛṣṇa-pakṣa Aṣṭamī when it coincides with the Rohiṇī nakṣatra, with the principal worship performed at midnight.
Kṛṣṇa is invoked as primary, together with Balabhadra, Devakī, Vasudeva, and Yaśodā (with attendants), and additionally the Moon (Śaśāṅka) is worshipped along with Rohiṇī through arghya and related rites.
It ties ritual action to purification and ascent: fasting is said to remove sins from seven births, the liturgy praises Govinda as the source of Yoga/Yajña/Dharma/Viśva, and the fruits include ūrdhva-gati (higher progress) and Viṣṇuloka, aligning bhakti and vrata-discipline with mokṣa.