Adhyaya 98
Vastu-Pratishtha & Isana-kalpaAdhyaya 986 Verses

Adhyaya 98

Chapter 98 — गौरीप्रतिष्ठाकथनम् (Gaurī-Pratiṣṭhā: Installation and Worship of Gaurī; Īśāna-kalpa Elements)

Bab 98 diawali dengan catatan singkat tentang perbedaan bacaan naskah, lalu dimulai uraian Gaurī-pratiṣṭhā. Īśvara mengajarkan: mula-mula menyiapkan maṇḍapa dan tata-ritus pendahuluan, kemudian meninggikan serta menempatkan lokasi pemasangan. Praktisi melakukan nyāsa mantra secara sistematis—dari mantra-mantra mūrti hingga mantra terkait śayyā (ranjang ritual)—serta memasukkan Guha-mantra dan rangkaian dari Ātmavidyā sampai Śiva, berpuncak pada Īśāna-niveśana (pemanggilan/penetapan Īśāna). Selanjutnya Parā-Śakti dipasang melalui nyāsa, disertai homa dan japa menurut tata cara sebelumnya; daya-daya yang dipanggil dipersatukan dan dibentuk piṇḍī sebagai perwujudan kriyā-śakti. Dewi divisualkan meresapi seluruh wilayah ritual, permata dan persembahan ditempatkan, lalu beliau ditetapkan pada arca/āsana. Pada akhir ritus dibedakan penempatan: kriyā-śakti pada pīṭha (singgasana) dan jñāna-śakti pada vigraha (arca), kemudian Ambikā/Śivā dihampiri dengan hormat dan dipuja dengan persembahan lengkap.

Shlokas

Verse 1

लिङ्गानामिति ज पिष्टकादि च तत्क्रमादिति छ , ज च मृष्टिमन्त्रेणेत्यादिः दीक्षणादिविधानत इत्य् अन्तः पाठो ग पुस्तके नास्ति शिवपूजा इति क अथाष्टनवतितमो ऽध्यायः गौरीप्रतिष्ठाकथनं ईश्वर उवाच वक्ष्ये गौरीप्रतिष्ठाञ्च पूजया सहितां शृणु मण्डपाद्यं पुरो यच्च संस्थाप्य चाधिरोपयेत्

“liṅgānām…”, “piṣṭakādi… dalam urutan itu”, dan “dengan mantra pembersihan (mṛṣṭi)…” adalah variasi bacaan; bacaan internal “menurut aturan inisiasi dan tata-ritus terkait” tidak terdapat dalam naskah ‘ga’; di tempat lain ada bacaan “Śiva-pūjā”. Kini dimulai bab ke-98, uraian tentang pratiṣṭhā Dewi Gaurī. Īśvara bersabda: “Akan kujelaskan pemasangan Gaurī beserta tata pemujaannya—dengarkan. Setelah lebih dahulu mendirikan maṇḍapa dan segala persiapan pendahuluan, hendaknya kemudian mengangkat dan menempatkan (instalasi/dewata) di atasnya.”

Verse 2

शय्यायान्तांश् च विन्यस्य मन्त्रान्मूर्त्यादिकान् गुह आत्मविद्याशिवान्तञ्च कुर्यादीशनिवेशनं

Setelah melakukan nyāsa mantra-mantra mulai dari Mūrti dan seterusnya hingga yang ditempatkan pada śayyā, serta menempatkan pula mantra Guha dan rangkaian mantra dari Ātmavidyā sampai Śiva; kemudian lakukan Īśa-niveśana (pemasukan/invokasi Īśāna).

Verse 3

शक्तिं परां ततो न्यस्य हुत्वा जप्त्वा च पूर्ववत् सन्धाय च तथा पिण्डीं क्रियाशक्तिस्वरूपिणीं

Kemudian lakukan nyāsa atas Parā-Śakti; sebagaimana sebelumnya, persembahkan homa dan lakukan japa; lalu satukan (sandhāna) dan bentuklah piṇḍī yang mewujudkan kriyā-śakti, daya tindakan ritual.

Verse 4

सदेशव्यापिकां ध्यात्वा न्यस्तरत्नादिकां तथा एवं संस्थाप्य तां पश्चाद्देवीन्तस्यान्नियोजयेत्

Setelah bermeditasi pada Dewi sebagai yang meresapi seluruh wilayah, serta menempatkan permata dan persembahan lain dengan tata cara yang benar, sesudah demikian menegakkan-Nya, hendaknya kemudian mengundang dan menempatkan Dewi pada arca/alas ritus itu.

Verse 5

परशक्तिस्वरूपान्तां स्वाणुना शक्तियोगतः ततो न्यसेत् क्रियाशक्तिं पीठे ज्ञानञ्च विग्रहे

Dengan menuntunkannya hingga memuncak pada wujud Parāśakti, dan menyatukannya melalui śakti-yoga dengan prāṇa halus diri, kemudian lakukan nyāsa: tempatkan Kekuatan Tindakan pada pīṭha dan Pengetahuan pada vigraha.

Verse 6

ततोपि व्यापिनीं शक्तिं समावाह्य नियोजयेत् अम्बिकां शिवनाम्नीञ्च समालभ्य प्रपूजयेत्

Sesudah itu, dengan mengundang Śakti yang meresapi segalanya, hendaknya ia menempatkannya secara benar dalam ritus. Lalu, setelah mendekati dan menyentuh secara ritual Ambikā—yang juga bernama Śivā—hendaknya ia memuja dengan persembahan lengkap.

Frequently Asked Questions

Maṇḍapa and preliminaries → mantra-nyāsa (Mūrti through śayyā, plus Guha and Ātmavidyā-to-Śiva series) → Īśāna-niveśana → Parā-Śakti nyāsa with homa and japa → union of invoked powers and piṇḍī formation → all-pervasive visualization and offering placement → assignment of the Goddess into the locus → kriyā-śakti on pīṭha and jñāna on vigraha → worship of Ambikā/Śivā.

It treats installation as both a metaphysical invocation of Śakti and a technical protocol—precise nyāsa order, differentiated placements (pīṭha vs vigraha), and coordinated homa-japa—showing ritual craftsmanship as a disciplined path aligned with dharma and spiritual realization.

The opening notes record variant readings (e.g., phrases like “liṅgānām…”, “piṣṭakādi… in sequence”, “with the mṛṣṭi mantra…”) and state that an internal reading about initiation rules is absent in one manuscript, with another variant reading “Śiva-pūjā.”