Adhyaya 89
Vastu-Pratishtha & Isana-kalpaAdhyaya 895 Verses

Adhyaya 89

Teaching of the One-Principle (Ekatattva) Initiation (एकतत्त्वदीक्षाकथनम्)

Dewa Agni, kepada Resi Vasiṣṭha, mengajarkan sistem inisiasi ringkas bernama Ekatattva-dīkṣā, sebagai metode yang dipermudah dalam lingkup Īśāna-kalpa dan tata pratiṣṭhā. Praktisi terlebih dahulu menuntaskan ritus pendahuluan seperti sūtra-bandha (pengikatan benang suci) dengan tertib. Inti kontemplasinya ialah menghayati seluruh rangkaian tattva—dari Kālāgni hingga Śiva—sebagai satu Realitas yang setara, laksana permata yang disatukan oleh seutas benang. Setelah memanggil dewa mulai dari Śiva-tattva, pemimpin upacara melaksanakan garbhādhāna dan tahapan sakramental lain sebagaimana diajarkan, namun diteguhkan oleh mūla-mantra, serta menyempurnakan upacara dengan persembahan seluruh iuran/biaya (śulka). Ajaran berpuncak pada pemberian transmisi “penuh” yang membawa daya hidup tattva (tattva-vāta), yang dinyatakan cukup melalui satu metode untuk mencapai nirvāṇa. Penutupnya ialah abhiṣeka Śiva-kumbha dengan bejana khusus untuk yojanā (penataan ritual) dan sthiratva (kemantapan).

Shlokas

Verse 1

इत्य् आदिमहापुराणे आग्नेये निर्वाणदीक्षासमापनं नाम अष्टाशीतितमो ऽध्यायः अथोननवतितमो ऽध्यायः एकतत्त्वदीक्षाकथनं ईश्वर उवाच अथैकतात्त्विकी दीक्षा लघुत्वादुपदिश्यते सूत्रबन्धादि कुर्वीत यथायोगं निजात्मना

Demikian, dalam Agni Purāṇa—Mahāpurāṇa yang purba—berakhir bab ke-88 yang berjudul “Penyelesaian Nirvāṇa-Dīkṣā.” Kini dimulai bab ke-89: “Pemakluman Dīkṣā Ekatattva.” Tuhan bersabda: “Selanjutnya diajarkan dīkṣā ‘satu-tattva’ karena ringkas. Hendaknya seseorang melaksanakan pengikatan benang-ritual (sūtra-bandha) dan tata awal lainnya, sebagaimana patut, dengan dirinya sendiri (secara pribadi).”

Verse 2

कालाग्न्यादिशिवान्तानि तत्त्वानि परभावयेत् समतत्त्वे समग्राणि सूत्रे मणिगणानिव

Hendaknya ia merenungkan secara mendalam tattva-tattva yang bermula dari Kālāgni dan berakhir pada Śiva. Semuanya, utuh dan lengkap, terhimpun dalam Realitas yang satu dan setara, bagaikan gugusan permata pada seutas benang.

Verse 3

आवाह्य शिवतत्त्वादि गर्भाधानादि पूर्ववत् मूलेन किन्तु कुर्वीत सर्वशुल्कसमर्पणं

Setelah mengundang (dewa) mulai dari Śiva-tattva, hendaknya ia melaksanakan upacara seperti garbhādhāna dan seterusnya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya—namun dengan mantra-akar (mūla-mantra); dan seluruh biaya/imbalan ritual (śulka) pun dipersembahkan kepada dewa.

Verse 4

प्रददीत ततः पूर्णां तत्त्ववातोपगर्भितां एकयैव यया शिष्यो निर्वाणमधिगच्छति

Sesudah itu, hendaknya ia menganugerahkan ajaran yang lengkap—yang sarat dengan hembusan (vāta) prinsip-prinsip sejati—melalui satu cara saja, yang dengannya sang murid mencapai nirvāṇa.

Verse 5

योजनायै शिवे चान्यां स्थिरत्वापादनाय च दत्वा पूर्णां प्रकुर्वीत शिवकुम्भाभिषेचनं

Setelah mempersembahkan satu kumbha kepada Śivā untuk ritus penataan (yojanā) dan satu lagi kepada Śiva untuk menganugerahkan keteguhan (sthiratva), lalu setelah mempersembahkan kumbha yang penuh, hendaknya ia melaksanakan abhiṣeka dengan kendi (kumbha) bagi Śiva.

Frequently Asked Questions

Its concision and unifying method: the entire tattva-series (Kālāgni through Śiva) is contemplated as held within one equal Reality, enabling a complete transmission through a single streamlined procedure.

By framing correct preliminaries, tattva-contemplation, mūla-mantra-based rites, and Śiva-kumbha abhiṣeka as a complete initiatory transmission (pūrṇā) through which the disciple is said to attain nirvāṇa.