
Rīti-nirūpaṇam (Explanation of Poetic Style)
Melanjutkan kurikulum alaṅkāra (poetika), Bhagavān Agni beralih dari teori rasa menuju rīti, menegaskan gaya sebagai unsur formal dalam vāk-vidyā (ilmu ujaran). Rīti diklasifikasikan menjadi empat corak regional-tekstural—Pāñcālī, Gauḍī (Gauḍadeśīyā), Vaidarbhī, dan Lāṭī—yang dibedakan oleh kepadatan ornamen (upacāra), keterkaitan sintaksis (sandarbha), serta perluasan struktur (vighraha). Uraian lalu bergerak dari gaya puisi ke gaya dramaturgi (vṛtti), menjelaskan empat mode berbasis tindakan—Bhāratī, Ārabhaṭī, Kauśikī, dan Sāttvatī—sehingga teori kāvya dipadukan dengan prinsip nāṭya. Bhāratī digambarkan berpusat pada diksi, wajar dalam tutur, terkait tradisi Bharata; bab ini merangkum anggota-angganya serta bentuk drama terkait (seperti vīthī dan prahasana) beserta daftar vīthī-aṅga. Prahasana didefinisikan sebagai farse komik, sedangkan Ārabhaṭī ditandai adegan energik (sihir, pertempuran) dan aksi panggung yang cepat, menunjukkan bagaimana teknik estetika melayani ungkapan yang tertib dalam budaya dharmika.
Verse 1
इत्य् आग्नेये महापुराणे अलङ्कारे शृङ्गारादिरसनिरूपणं नामाष्टत्रिंशदधिकत्रिशततमो ऽध्यायः मुहुरिति ख अथोनचत्वारिंशदधिकत्रिशततमो ऽध्यायः रीतिनिरूपणं अग्निरुचाच वाग्विद्यासम्प्रतिज्ञाने रीतिः सापि चतुर्विधा पाञ्चाली गौडदेशीया वैदर्भी लाटजा तथा
Demikian, dalam Agni Mahāpurāṇa pada bagian alaṅkāra (poetika), berakhir bab ke-338 berjudul “Uraian tentang rasa-rasa mulai dari Śṛṅgāra.” Lalu dimulai bab ke-339, “Uraian tentang rīti (gaya puitik).” Agni bersabda: “Dalam pemaparan ilmu wāk (vāk-vidyā), rīti diajarkan empat macam: Pāñcālī, Gauḍadeśīyā (Gauḍī), Vaidarbhī, dan Lāṭajā.”
Verse 2
उपचारयुता मृद्वी पाञ्चाली ह्रस्वविग्रहा अनवस्थितसन्दर्भा गौडीया दीर्घविग्रहा
Rīti Pāñcālī bersifat lembut, dihiasi upacāra (ungkapan berornamen), dan berstruktur ringkas. Rīti Gauḍīyā memiliki rangkaian keterkaitan yang tidak mantap dan berstruktur panjang serta luas.
Verse 3
उपचारैर् न बहुभिरुपचारैर् विवर्जिता नातिकोमलसन्दर्भा वैदर्भी मुक्तविग्रहा
Rīti Vaidarbhī tidak dibebani upacāra yang berlebihan, namun juga tidak tanpa ornamen; jalinannya tidak terlampau lembut, dan ia bebas dari susunan yang kasar atau terputus-putus.
Verse 4
लाटीया स्फुटसन्धर्भा नातिविस्फुरविग्रहा परित्यक्तापि भूयोभिरुपचारैर् उदाहृता
Gaya Lāṭī memiliki susunan yang jelas dan terjalin rapi; ungkapannya tidak berlebihan dalam kemewahan retorika. Walau di sebagian kalangan ditinggalkan, banyak sarjana tetap menjelaskannya melalui beragam upacāra, yakni penggunaan konvensional yang mapan.
Verse 5
क्रियास्वविषमा वृत्तिर्भारत्यारभटी तथा कौशिकी सात्वती चेति सा चतुर्धा प्रतिष्ठिता
Vṛtti (gaya dramatik) yang beragam dalam ragam tindakan ditegakkan dalam empat bentuk: Bhāratī, Ārabhaṭī, Kauśikī, dan Sāttvatī.
Verse 6
वाक्प्रधाना नरप्राया स्त्रीयुक्ता प्राकृतोक्तिता भरतेन प्रणीतत्वाद् भारती रीतिरुच्यते
Rīti ini disebut Bhāratī karena diajarkan oleh Bharata: ia berpusat pada ujaran, umumnya terkait tokoh laki-laki, tetap memberi ruang bagi tokoh perempuan, dan memakai tuturan yang alami/bercorak Prākṛta.
Verse 7
चत्वार्यङ्गानि भारत्या वीथी प्रहसनन्तथा प्रस्तावना नाटकादेर्वीथ्यङ्गाश् च त्रयोदश
Bhāratī memiliki empat anggota pokok; demikian pula Vīthī dan Prahasana (dibahas anggota-anggotanya). Dalam nāṭaka dan drama sejenis ada prastāvanā (prolog); sedangkan Vīthī memiliki tiga belas anggota.
Verse 8
उद्घातकं तथैव स्याल्लपितं स्याद्द्वितीयकम् असत्प्रलापो वाक्श्रेणी नालिका विपणन्तथा
Yang pertama disebut Udghātaka; yang kedua dinamai Lapita. Juga dikenal: Asatpralāpa (celoteh tak beraturan), Vākśreṇī (rangkaian ujaran yang tersambung), Nālikā (tutur singkat/cepat), dan Vipaṇana (tutur tawar-menawar ala pasar).
Verse 9
व्याहारस्तिमतञ्चैव छलावस्कन्दिते तथा वाग्वेणीति क , ञ , ट च व्याहारस्त्रिगतञ्चैवेति ख गण्डो ऽथ मृदवश् चैव त्रयोदशमथाचितम्
‘Vyāhāra’ juga disebut ‘timat’; demikian pula ‘chala’ dan ‘avaskandita’. Untuk kelompok konsonan ka, ña, dan ṭa disebut ‘vāgveṇī’; untuk kha disebut ‘vyāhāra-trigata’. Lalu ada ‘gaṇḍa’ dan juga ‘mṛdava’; demikianlah himpunan istilah yang ketiga belas dinyatakan.
Verse 10
तापसादेः प्रहसनं परिहासपरं वचः मायेन्द्रजालयुद्धादिबहुलारभटी स्मृता मङ्क्षिप्तकारपातौ च वस्तूत्थापनमेव च
‘Prahasana’ adalah lakon jenaka yang menampilkan pertapa dan sejenisnya, dengan ujaran yang bertujuan senda-gurau. Gaya dramatik yang gagah bernama ārabhaṭī dikatakan kaya akan adegan maya, sulap/ilusi, dan pertempuran; serta mencakup gerak tangan yang cepat dan mengangkat atau menangani properti panggung.
The chapter differentiates four rītis by measurable stylistic traits—ornament density (upacāra), coherence of linkage (sandarbha), and compact vs expansive phrasing (vighraha)—and then maps dramatic performance into four vṛttis (Bhāratī, Ārabhaṭī, Kauśikī, Sāttvatī).
By disciplining speech and representation—how emotion, action, and ornament are expressed—rīti and vṛtti cultivate sāttvika clarity, ethical communication, and refined attention, supporting dharma in society while aligning artistry with inner purification.