Adhyaya 144
Jyotisha & YuddhajayarnavaAdhyaya 1440

Adhyaya 144

Adhyāya 144 — Kubjikā-pūjā (कुब्जिकापूजा)

Dewa Īśvara memperkenalkan sistem pemujaan Kubjikā sebagai sarana meraih kemenangan dalam seluruh puruṣārtha (dharma, artha, dan seterusnya). Sādhaka boleh bersembahyang hanya dengan mūla-mantra atau dengan pemujaan lengkap beserta seluruh parivāra (iringan dewa-dewi). Bab ini menyusun tangga tata-cara: japa mantra Kubjikā yang diperluas, dilanjutkan kara-nyāsa dan aṅga-nyāsa, serta pelaksanaan tiga sandhyā menurut urutan Vāmā, Jyeṣṭhā, dan Raudrī. Sebuah gāyatrī bergaya Kaula menegaskan Kubjikā sebagai penguasa kula-vāk dan sebagai Mahākālī. Ritual berkembang menjadi pemujaan pādukā melalui rangkaian nama yang tersusun (disebut berjumlah enam puluh, berakhir dengan “namo”), disertai penempatan mandala, pemujaan arah, rumus bali, dan penetapan bīja-suku kata. Puncaknya adalah meditasi pada Dewi sebagai totalitas 32 aksara: gelap laksana teratai biru, bermuka enam, berlengan dua belas, berhias simbol nāga, memegang senjata serta perlengkapan. Disertakan triad pemurnian (vidyā–devī–guru), daftar tempat dan āsana, serta susunan śakti (mātṛkā dan kelompok ḍākinī), sehingga tampak teknologi-ritual Agneya yang memadukan mantra, pemasangan pada tubuh, dan tatanan kosmografis menjadi sādhanā kemenangan yang disiplin.

Shlokas

No shlokas available for this adhyaya yet.

Frequently Asked Questions

Mantra-recitation is followed by kara- and aṅga-nyāsa, then sandhyā worship in three modes (Vāmā, Jyeṣṭhā, Raudrī), expanding into pādukā-pūjā, maṇḍala/directional worship, bali offerings, and final visualization of the varṇa-devī (32-letter Kubjikā form).

It frames victory as puruṣārtha-aligned (dharma and artha included), disciplines power through purification (vidyā–devī–guru), and anchors results in ordered worship—nyāsa, maṇḍala cosmology, and ethical observances—thus integrating bhukti with a dharma-governed sādhana.