
Chapter 139 — षष्टिसंवत्सराः (The Sixty Years)
Dalam bagian Jyotiṣa dari Yuddhajayārṇava, Īśvara memaparkan siklus enam puluh tahun (saṃvatsara) sebagai kerangka untuk menilai hasil mujur dan tidak mujur yang berkaitan dengan kerajaan dan kehidupan sosial. Tahun-tahun bernama seperti Prabhava, Vibhava, Prajāpati, Aṅgirā, Īśvara, Pramāthī, Vikrama, Durmukha, Hemalamba, dan Vilamba dikaitkan dengan tanda-tanda: kemakmuran yajña, kebahagiaan rakyat, hasil panen, pola hujan (sedang vs berlebihan), kesehatan dan wabah, kehilangan harta, kekerasan sosial, serta peluang kemenangan. Bab ini juga mengenalkan pembacaan pertanda yang terikat waktu—cairan seperti darah, mata memerah, langit kekuningan/kemerahan, air meluap, dan kondisi ‘siddhārtha/raudra/durmati/dundubhi’—sebagai isyarat bagi kebijakan, kehati-hatian militer, dan langkah kesejahteraan. Hasilnya adalah pedoman jyotiṣa ringkas untuk negara: waktu kosmis diperlakukan sebagai intelijen yang dapat ditindaklanjuti demi menjaga dharma, kelimpahan, dan keberhasilan strategis.
No shlokas available for this adhyaya yet.
It enumerates the saṃvatsara (sixty-year) cycle and assigns outcome-profiles—rainfall, harvest, health, wealth, social mood, and victory/defeat—turning calendrical nomenclature into applied prognostics for the realm.
By treating time-knowledge as dharma-sustaining discipline: correct anticipation of scarcity, disease, and conflict supports yajña, charity, protection of subjects, and restraint in warfare—aligning governance with cosmic order rather than mere expediency.