
Chapter 133 — Various Strengths (Nānā-balāni) in Jyotiṣa and Battle-Protection Rites
Dewa Agni melanjutkan arus Yuddhajayārṇava dengan mengaitkan diagnosis Jyotiṣa dengan keberhasilan di medan perang. Mula-mula beliau menjelaskan profil ideal ‘kṣetrādhipa’ (pemimpin medan): tubuh seimbang dan konstitusi serasi; lalu menghubungkan posisi Surya, Candra, Maṅgala, Budha, Guru, Śukra, Śani dengan watak serta keberuntungan. Selanjutnya dipaparkan buah daśā—kekayaan, tanah, kemakmuran kerajaan—serta pembacaan pertanda melalui aliran nāḍī (napas kiri/kanan) dan kesepadanan suku kata nama, diterapkan pula untuk hasil dagang dan perang. Bab ini kemudian masuk ke Agneya Vidyā: mantra senjata berpusat Bhairava dengan nyāsa dan japa untuk memukul mundur dan membuat musuh lari; ritus memecah bala tentara memakai bahan kremasi serta penulisan nama pada boneka/efigi yang digambar. Diajarkan pula cakra Garuḍa/Tārkṣya untuk kemenangan dan menetralkan racun serta gangguan bhūta-graha melalui visualisasi dan penempatan aksara. Penutupnya memuat ritus Picchikā (japa saat gerhana), prosedur penolakan jarak jauh (bhaṅga), vidyā Mātṛkā yang ditulis pada daun, rakṣā-yantra berinti bīja dengan kelopak teratai dan susunan fonem, formasi Mṛtyuñjaya, serta vidyā Bhelakhī untuk menangkis kematian magis yang bermusuhan—diakhiri klaim praktis tentang ketakterkalahkan dalam duel pedang.
No shlokas available for this adhyaya yet.
A combined technical stack: (1) Jyotiṣa correlations of graha placements with bodily/psychological traits; (2) daśā-phala enumerations; (3) omen-reading via nāḍī-flow and name-syllable parity; and (4) operational mantra/yantra protocols (nyāsa counts such as 108 japa; ninefold name-inscription; lotus-petal phoneme placements; birch-bark inscription with gorocanā and kuṅkuma).
It frames protection, victory, and harm-aversion as dharmic disciplines: mantra, yantra, visualization, and ritual offerings are treated as revealed means that must be applied with restraint and right orientation, integrating worldly efficacy (bhukti) into a sacral order that supports steadiness, protection of life, and the broader pursuit of Dharma and ultimately mukti.
Bhairava (as the meditational self-form for astramantra practice), Tārkṣya/Garuḍa (as the victory and poison-destroying power), the Mātṛkās with emphasis on Kālarātrī (via caru offerings), and protective forms such as Narasiṁhī, Bhairavī-Śakti, and Gaurī.