
मन्त्रमाहात्म्यकथनम् (Account of the Greatness of Mantras)
Sesudah menutup bahasan tentang sedekah tanah, Bhagavan Agni mengalihkan pahala lahiriah dāna ke disiplin batin berupa mantra dan prāṇa. Ia menguraikan cakra nāḍī yang muncul dari kanda di bawah pusar, menyebut 72.000 saluran serta sepuluh nāḍī utama (iḍā, piṅgalā, suṣumṇā, dan lainnya). Dijelaskan pula sepuluh angin-hayat: lima utama (prāṇa, apāna, samāna, udāna, vyāna) dan lima pendamping (nāga, kūrma, kṛkara, devadatta, dhanañjaya), beserta fungsinya dan polaritas siang–malam antara prāṇa dan apāna. Tanda-tanda waktu dan simbol (saṅkrānti, viṣuva, ayana, adhīmāsa, ṛṇa, ūnarātra, dhana) dihubungkan dengan gejala tubuh dan isyarat napas, seakan waktu kosmis dibaca melalui napas. Praktik prāṇāyāma dipaparkan melalui pūraka, kumbhaka, dan pelepasan ke atas, lalu mencapai ajapā-japa (Gāyatrī sebagai japa spontan) serta latihan haṃsa. Ajaran meluas ke teologi tubuh halus: Kuṇḍalinī di wilayah hati, kontemplasi amṛta, dan lokasi dewa dalam tubuh—Brahmā di hati, Viṣṇu di tenggorokan, Rudra di langit-langit, Maheśvara di dahi. Akhirnya mantra dipandang sebagai “prāsāda” (istana mantrik) dengan ukuran bunyi (pendek/panjang/pluta), aplikasi ritual (phaṭ untuk māraṇa; mantra-hati untuk ākṛṣṭi), hitungan japa-homa, doktrin tri-śūnya, serta kualifikasi ācārya/guru yang teguh dalam penguasaan Oṁ, Gāyatrī, dan pengetahuan Rudra.
No shlokas available for this adhyaya yet.
A structured subtle-physiology: 72,000 nāḍīs from the kanda below the navel; ten principal nāḍīs (including iḍā, piṅgalā, suṣumṇā); and ten vāyus with precise functional definitions, integrated with prāṇāyāma steps (pūraka–kumbhaka–release).
It internalizes dharma through disciplined breath and mantra: ajapā-japa and haṃsa contemplation purify the practitioner, establish deity-awareness within the body via nyāsa, and present mantra as a ‘prāsāda’ whose correct phonetics and method lead to siddhi and, through tri-śūnya insight, liberation.
Gāyatrī is called Ajapā (spontaneous, unforced repetition), identified as embodying Brahmā, Viṣṇu, and Maheśvara; repeating it is said to end rebirth.
An ācārya must be endowed with the thirty-eight kalās; a true guru is described as one who knows Oṁkāra, Gāyatrī, and the Rudra-deities and their principles.